-->

Recent Posts

Welcome

Haaa berusaha update lagu2 versi indonesia yang sudah expired, enjoy prend, sudah beberapa yang aku upload ulang, cuman berbeda file.. :)

Friday, August 15, 2014

Project 4 : Sistem Absensi dan Monitoring ETL Repository (SAMER)

Links to this post

Ayee, sudah jadi.. Berawal dari EMD (ETL Monitoring Dashboard) menjadi SAMER (Sistem Absensi dan Monitoring ETL Repository), telah banyak mengalami perubahan. Tidak hanya dari sisi nama aplikasi, tapi bisnis proses serta tampilan juga.
bikin cape memang sampai lembur-lembur. Hahahha.


Itu baru design, belom lagi program dan bisnis proses didalamnya lagi.. hahahahha.. ckckckc yang penting dah kelar :D

Aplikasi ini adalah aplikasi monitoring ETL yang dibuat untuk memonitoring ETL yang berjalan dari Sapit PIHAK A ke Sapit PIHAK B dan Sapit PIHAK B ke Aplikasi di PIHAK B.
Pengelolaan monitoring ini, terdiri dari :
1.       Grup Utama
Grup Utama ini terdiri dari Ringkasan Grup2 Package dimana jika ada 1 Package yang sedang proses, maka 1 Grup tersebut dianggap sedang proses, kemudian jika terdapat 1 package yang gagal, maka dianggap package tersebut gagal, dan jika seluruh package sukses dijalankan, maka 1 grup tersebut dinyatakan sukses.
2.       Grup
Grup ini merupakan ringkasan dari total package yang sedang berjalan, gagal, dan sukses.
3.       Parent Package
Disebut parent package karna package ini digunakan untuk menjalankan package2 di dalamnya (Package Child)
4.       Child Package
Merupakan package yang digunakan untuk ETL data.
5.       Detil Package
Merupakan detil history dari package-package yang telah dijalankan, baik dijalankan melalui scheduler maupun dari aplikasi monitoring.

Beberapa fungsi yang tedapat di aplikasi Monitoring ini adalah :

1.       Ringkasan Package di menu notifikasi
Ringkasan Package ini terdiri dari total semua package yang sedang proses, gagal, dan sukses. Jumlahnya akan berbeda dengan yang ada di Grup Utama, dikarenakan grup utama meringkas hanya sampai level Grup saja,  sedangkan Ringkasan Package sampai pada level  jumlah package yang di eksekusi.
2.       Pages Favoite
Pages Favorite, merupakan shortcut menu untuk menu favorit pengguna. Pages ini hanya akan menampilkan top ten menu yang paling banyak di akses dari daftar menu favorit.
3.       Eksekusi Ulang Package
Aksi ini digunakan untuk mengeksekusi ulang package jika package gagal ataupun ingin diulangi kembali karna ada perubahan data pada waktu2 yang tidak terduga. Aksi ini akan menjalankan job yang di dalamnya terdapat package yang ingin di eksekusi.
4.       Error Message Package
Menampilkan detil error message pada job yang menjalankan package.
5.       Tarik Data File
Merupakan menu yang digunakan untuk menarik data suatu file dengan ftps secara dinamis, dikarenakan pengguna dapat memilih file-file yang ingin di pindahkan dari server source  ke server destination.
6.       Rekam Jejak
Menampilkan semua package dimana pengguna dapat mencari package secara khusus untuk ditelusuri lePihak Ah lanjut seperti detil history dan error message nya.
7.       Rekap Database dan Rekap FTPS
Menampilkan rekap job-job yang digunakan untuk menjalankan package database dan package ftps yang berjalan.


Thursday, February 27, 2014

Tak Kusangka (cerpen SMA)

Links to this post
TAK KUSANGKA

            Di sebuah diskusi kecil keluarga, “Angie (dibaca Enji), dari dulu papa tidak pernah mengekangmu, untuk kali ini turutilah papa dan mamamu ini”, kata ayah Angie dengan wibawanya.
            Sambil makan keripik singkong kesukaan Angie bertanya, “Sebenarnya ada apa sih Pa? Kok aneh bener. Tiba-tiba aja ngomongin masalah yang ga jelas. Jadi curiga, kayak ada yang salah nih.”
            Dengan agak takut ibu Angie berkata, “Begini Angie, sebenarnya kamu sudah dijodohkan sejak kecil”, langsung dipotong oleh Angie, “Apa! Dijodohin? Ga salah? Ini zaman apa Ma, Siti Nurbaya aja udah ga terdengar lagi batang hidungnya. Pokoknya Angie ogah kalau kayak gini caranya!”, membentak dan segera masuk ke kamarnya.
            Ibunya menyusul tapi pintunya terkunci dan hanya bisa mengetuk dan berkata, “Angie, mama mohon. Kamu jangan ngambek dulu. Ga ada salahnya kan dilihat dulu. Siapa tahu kamu suka. Ibu sudah buat janji dengan orang tua Reka, besok malam mereka akan datang untuk makan malam dan ketemu kamu. Mama mohon, kamu mau ya.”
            Terdengar suara ibunya yang memohon, Angie tetap mengacuhkannya dan berkata sambil membentak, “Sekali ga mau tetep ga mau!”.
            Esok harinya di sekolah, Angie menceritakan semua masalah tentang perjodohan itu kepada temannya, Rola. Dia adalah sahabat Angie dari kecil. Rola ga tahu musti gimana ngeliat temennya uring-uringan. Akhirnya Rola hanya bisa memberi saran yang membuat Angie berhenti uring-uringan, “Angie (dibaca Angi bukan Enji, untuk di sekolah dan dipergaulannya) ntar malem kamu kabur aja, sebelum tu cowok datang. Tapi sebenernya kalau menurutku sih, kamu lihat aja dulu, sapa tahu kamu suka. He3x..”, canda Rola yang bikin suasana jadi adem.
            “Enak aja kamu La, iya kalau cakep, kalau ancur? Kamu mau tanggung jawab?”, balas Angie yang akhirnya disusul tawa oleh kedua sahabat itu.
            Sepulang sekolah, Angie terus berpikir tentang rencananya untuk kabur. Masalah ini membuat dilema dirinya (hiperbolis nih). Ga tahu kenapa, tapi ada sedikit rasa untuk melihat siapa yang dijodohkan dengannya. Penasaran sepertinya. Tapi Angie tetap membulatkan tekadnya.
            Malamnya setelah ia disuruh ibunya untuk bersiap-siap, ia mulai diam-diam keluar lewat jendela. Dengan sedikit perjuangan, akhirnya Angie berhasil keluar. Ia terus berlari kearah taman dekat rumahnya. Dipikirnya, taman itu adalah tempat persembunyian yang bagus. Dengan nafas terengah-engah, akhirnya ia tiba di taman, segeralah ia duduk di ayunan favoritnya.
            Disitu, ia merasakan ketenangan. Tapi ini terlalu tenang baginya. Ia mulai bingung, mungkin agak sedikit takut telah hinggap di benaknya. Betapa tidak, taman yang biasanya ramai dipenuhi pengunjung, ternyata ketika malam tiba-tiba terasa menyeramkan. Ditambah lagi dengan lampu taman yang hanya remang-remang. Ia mulai paranoid sendiri.
            Di tengah keparanoidannya, sesosok tubuh tinggi tiba-tiba mendatanginya. Pikirannya semakin kalut dan akhirnya ia mulai berteriak. “ Arrrggggghhhhhh!!!”.
            “Hey, kamu kenapa? Biasa aja donk. Kayak liat hantu aja”, katanya sehingga Angie memberanikan diri untuk melihat kearah orang tersebut. Wajah yang keren dan lembut yang berbalut hem berwarna putih itupun mengulurkan tangannya kearah Angie yang duduk di atas tanah.
            Sambil menarik tangan Angie, ia berkata, “Ayo kita duduk di bangku taman di sana”. Angie hanya mengangguk. Ia masih bingung rupanya.
            Akhirnya mereka duduk dan Angie memulai pembicaraan dengan orang tersebut, “Aku Angie (dibaca Angi bukan Enji), kamu?”. “Aku Rex. Ngapain kamu sendirian di taman ini malem-malem?”, tanyanya ingin tahu. “Aku lagi ada masalah di rumah nih, ruwet banget”, kata Angie sedikit menjelaskan.
            “Cerita aja, aku mau dengerin kok”, katanya dengan wajah lembut yang membuat Angie terpesona pada pandangan pertama. Tapi Angie berpikir sejenak dan berkata, “Ah, ga usah. Ruwet banget deh, susah jelasinnya. Complicated bangetlah”, kata Angie menolak karena ia malu menceritakkan bahwa ia dijodohkan. Tengsin bahwa di zaman yang serba modern ini, masih aja ada acara perjodohan kayak gini.
            Sambil menatap mata Angie yang membuat Angie sport jantung setengah mati, Rex berkata, “Ya ga papa kalau kamu ga mau cerita”, sedikit kecewa. Lalu kata Angie, “Kalau kamu sendiri, kenapa ada di sini? Lagi ada masalah juga?”.
            “He3x.. Ga mau cerita ah. Sekarang kita impas”, sambil tertawa Rex sedikit menjaili Angie. Merekapun akhirnya akrab. Sambil bercanda ria, Rex pun pamitan pulang karna hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Angie pun pulang karena takut keluarganya heboh kalau Angie belum juga pulang.
            Sesampainya di rumah, Angie dimarahi habis-habisan. Uang sakunya dipotong 50% selama sebulan. Ini adalah hukuman terberat buat Angie.
            Esok harinya di sekolah, Angie dengan teman seganknya memulai kegiatan mereka saat istirahat, yaitu kumpul-kumpul bareng di gudang sekolah yang ga terpakai. Mereka biasanya hanya ngobrol bareng, ngerjain PR, dan melakukan hobi mereka di gudang yang terbengkalai itu.
            “Ngie, kamu dah liat siswa baru lom? Katanya cakep lo, jadi pengen liat nih. He3x..”, kata Rola sambil cekikikan sendiri.
            “Ah, pasti kalah cakep kalau dibandingin Rex, yang aku certain tadi. Pokoknya aku dah ga tertarik dengan yang lain. Aku cuma mau Rex”, kata Angie mantap. “Iya deh yang lagi kesemsem sama cowok ga dikenal, tapi lo bego ga tanya nomer HPnya”, kata Rola ada benarnya. “Iya sih Rol, aku nyesel. Gimana ya bisa ketemu doi? Begonya diriku ini”, kata Angie menyesal. Balas Rola sambil bercanda, “Baru nyadar nih kalau bego, ha3x..”, disusul dengan tawa anak-anak lain.
            Saat di kelas, banyak murid lain yang menggosipkan murid baru yang tadi diceritakan oleh Rola. Angie and the gank jadi penasaran juga. Mereka pengen ngeliat langsung gimana sih kegantengannya sehingga membuat satu sekolah heboh.
            Istirahat kedua mereka memulai pencariannya, namun Icha teman segank Angie datang dan mulai menjelek-jelekkan murid baru itu, katanya, “Emang dasar cowok cakep smuanya sama, belagu! Sombong banget!”, sambil terus mengumpat dan Angie bertanya, “Maksud kamu murid baru yang ‘itu’?”, langsung dijawab dengan emosi oleh Icha, “Iya! Masak aku cuma ajak kenalan aja sikapnya cuek banget. Sebel!”. “Wah musti diberi pelajaran nih Ngie”, usul Rola yang juga jengkel.
            “Bener kan kataku, Rex itu nomer satu.”, kata Angie membanggakan pujaannya. Oke, kalau gitu kita labrak dia sekarang, biar tahu rasa dia udah bikin masalah sama anggota genk kita. O ya, ngomong-ngomong siapa namanya?”, tanya Angie kepada Icha.
            “Dia Reka, iya kita labrak aja. Bikin kesel aja. Mang siapa sih dia!”, jawab Icha sambil terus marah-marah. Lalu mereka segera mencari orang yang bernama Reka itu.
            Saat berada di taman sekolah, Angie melihat sesosok tubuh yang iya kenal. Dia begitu kegirangan, segera ia menghampiri sosok itu. Tapi baru satu langkah ia berjalan, Icha langsung berkata, “Itu dia orangnya. Akhirnya ketemu juga”, sambil menunjuk pada sosok yang akan dituju oleh Angie.
            Angie mulai bingung. Itu Reka atau Rex? Itu yang dipikiran Angie. Akhirnya Angie memutuskan bahwa itu adalah saudara kembar Rex. Dipikiran Angie, Rex adalah saudara yang baik sedangkan Reka adalah saudara yang jahat. Angie mulai mengingat-ingat, “Kayaknya pernah denger nama Reka deh, dimana ya?”, tapi hanya sebatas angin lalu.
            Angie mulai mendatangi Reka dan mulai melabrak Reka, “Hey kamu cowok belagu!”, Reka menoleh dan terlihat sedikit kaget. “Kamu kok ga sama kayak saudaramu yang baik sih! Heran! Saudara tapi kok sifatnya beda banget.”. “Kamu kenal Reka, Ngie?”, tanya Rola sedikit bingung.
            Reka hanya tersenyum dan menjawab, “Maksudmu siapa? Perasaan ak… “Itu, Rex saudara kembarmu.", potong Angie. “Dia orangnya baik kok kamunya enggak! Kalau diandaikan ya, Rex itu malaikatnya dan kamu iblisnya tahu!”,kata Angie sok tahu.
            Reka tampak berpikir sejenak, agaknya dia bingung dengan apa yang dikatakan oleh Angie. “Kamu suka ya sama Rex?”, kata Reka menjebak.
            Angie malah kebingungan mendengar pertanyaannya yang tak terduga. Ia hanya memikirkan perkataan untuk membalas pertanyaan Reka, “Kalau iya kenapa? Dia kan lebih baik. Kalau dia nembak aku, pasti langsung aku terima!”. “Ngie, kok jawabanmu ngelantur jauh sih?”, tanya Rola yang semenjak tadi bingung dengan percakapan Angie dan Reka. Tapi tetap tidak dihiraukan oleh Angie.
            Reka mulai tersenyum lebar yang membuat Angie luluh lantah tak bisa berbuat apapun (hiperbolis lagi he3x..). Senyumnya begitu mirip dengan Rex. Tunggu tapi dia kan bukan Rex. Dia si jahat Reka. Itu yang dipikiran Angie.
            Lalu Reka berkata, “Kalau gitu, aku nembak kamu sekarang. Berarti kamu udah nerima kan? Oke, sekarang kamu udah jadi pacarku.".
            “Lo kok bisa?”, kata Angie yang tambah bingung mendengar kata-kata Reka. Lalu Reka menarik tangan Angie dan membawanya kesuatu tempat yang jauh dari keramaian. Angie lebih bingung lagi sekarang.
            Lalu Reka menatap Angie sambil tersenyum dan ia berkata, “Angie, aku itu Rex dan aku juga Reka.”. Angie tambah bingung mendengar perkataan Reka. Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang untuk menceritakan hal yang sebenarnya, akhirnya Angie mulai mengerti. Reka juga menceritakkan perihal ia cuek pada teman Angie, Icha. Itu karena Icha terlebih dahulu menghina teman baru Reka, Bobby.
            Reka dan Angie memulai hari barunya. Mereka telah resmi jadian. Tapi Angie mulai bingung lagi. Ia teringat dengan masalah perjodohannya. Akhirnya ia menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Reka. Reka mulai berpikir dan akhirnya ia mendapat ide yang sebenarnya sedikit nekat. Reka dan Angie setuju untuk menemui keluarga Angie dan menjelaskan tentang hubungan mereka. Mereka berjanji untuk bertemu di rumah Angie sore hari pukul 4.
            Pukul 4 hampir tiba, tapi batang hidung Reka sama sekali tak kelihatan. Angie telah menceritakan semuanya pada ayah dan ibunya. Ibunya bingung, tapi ia berbuat sebisa mungkin agar Angie tetap pada perjodohannya. Angie hanya bisa berkata, “Sebentar Ma, dia pasti datang.”. “Iya, tapi kapan? Mungkin dia tidak serius dengan mu. Lebih baik kamu memilih anak teman Mama yang lebih bisa diandalkan.”, kata ibu Angie membujuk Angie tetap pada perjodohannya.
            Hari telah menunjukkan pukul 5 sore. Angie menghubungi Reka namun tidak ada jawaban sama sekali. Angie mulai cemas. Ayah dan ibu Angie mulai beranjak pergi dari ruang keluarga. Angie kecewa.
            Pukul 9 malam, pada hari yang sama, terdengar suara ketukkan pintu. Angie masih berharap Reka yang datang. Ia segera membukakan pintu. Benar, ternyata itu memang Reka. Dengan nafas yang terengah-engah Reka berkata, “Maaf Ngie, aku baru bisa kabur sekarang. Orang tuaku ga ngijinin aku untuk ketemu kamu.”. Lalu Angie menyuruh masuk dan membawakan segelas air untuk Reka. “Rek, ga papa kamu telat yang penting kamu datang. Aku udah seneng banget kok. Tapi kenapa orang tuamu ga bolehin kamu buat ketemu aku?”, tanya Angie sedih.
            “Sama kayak kamu Ngie, aku juga udah dijodohin. Rumah cewek itu juga deket rumah kamu. Inget ga waktu kita pertama kali ketemu di taman dekat sini? Itu waktu aku mau dijodohin.”, kata Reka menjelaskan.
            “Hah! Sama dong. Waktu itu juga aku mau dijodohin. Masak ada ya kebetulan kayak gini. Apa hari itu hari baik buat jodohin anak ya. Para orang tua yang aneh”, Angie sedikit bercanda.
            Reka mulai berpikir, “Ngie, jangan-jangan,”, Reka memutus perkataanya sebentar. Ibu Angie datang ingin tahu siapa yang datang. Ibu Angie melihat Reka sejenak, agak kaget dan berkata, “Lo, Reka kok ada di sini? Disuruh Mama ya buat ketemu Angie (dibaca Enji)?”, tanya ibu Angie heran.
            “Angie (dibaca Enji) tante? Ngie (dibaca biasa) jadi nama kamu Angie?”, selidik Reka. “Iya, Angie (Enji) kalau di rumah dan Angie (Angi) kalau di sekolah. Mang kenapa? Apa kamu kenal sama Mama Aku, kok Mama kenal kamu?”, tanya Angie bingung.
            “Ya ampun Ngie, yang dijodohin itu kita. Dengan semuanya yang serba kebetulan ini, sekarang aku jadi ngerti.”, kata Reka kepada Angie yang akhirnya mulai mengerti.
            “Jadi kapan nih kita menikah Rek”, tanya Angie sedikit usil, segera disambar oleh ibu Angie, “Siapa bilang kalian langsung menikah, Mama kan bilang kalian dijodohkan!”, kata ibu Angie yang disusul oleh tawa ria mereka bertiga.

Created by: Ly_Le2    

Wednesday, February 26, 2014

Sama Tapi Tak Serupa (unfinish story)

Links to this post
SERUPA TAPI TAK SAMA
Hari yang cerah, saat itu seorang gadis bertubuh tinggi tidak gemuk dan tidak juga kurus, yang mengenakan baju putih berlengan panjang dilapis dengan Hem hitam dengan lengan pendek dan dibagian dada sebelah kirinya terdapat symbol SMA LynSide berjalan riang menuju sekolah barunya. Dengan rok payung mengembang setinggi lutut, Ia mulai menyapa teman-teman barunya yang melewati lorong sekolah barunya itu.
Yup, Reka adalah gadis yang ceria. Ia memang sering berpindah sekolah, ini adalah ketujuh kalinya Ia harus mulai menyesuaikan dengan sekolah barunya tersebut. Tapi Ia selalu bisa menyesuaikan diri dengan cepat, karena banyak pengalaman yang telah Ia lalui.
Melewati taman sekolah yang begitu indah, langkah Reka terhenti sejenak. Ia menatap taman itu, lalu menghirup udara pagi sambil menengadahkan kepalanya ke langit yang saat itu cerah sedikit berawan.
Tiba-tiba dari arah samping kanan Reka terdengar suara memanggil namanya, “Reka!”. Seketika itu juga Reka menoleh, seorang cowok berwajah imut tersenyum seperti melihat ke arahnya. “Siapa dia?”, kata Reka dalam hatinya. Ia tidak ingat siapa sebenarnya cowok itu. Tapi melihat wajahnya yang cerah dan manis itu, Reka tersenyum menyambutnya. Tapi apa disangka, saat Reka hendak melambaikan tangannya, terdengar suara agak kesal dari arah belakang Reka, “Oi, kemana aja loe, gua cari juga!!” kata cowok dengan rambut hitam pekat yang sedikit acak-acakan melewati samping kanan Reka menuju cowok imut yang ada di depannya. Mereka terlihat akrab dan langsung pergi meninggalkan Reka. “Dasar cowok tengil ganggu aja”, gumam Reka pelan kepada cowok yang seperti merebut paksa cowok imut yang memanggil namanya tadi.
Reka bingung, Ia tak mampu berkata-kata. Wajah cerah cowok imut itu berlalu dihadapannya. Tanpa tahu apa maksud cowok itu memanggilnya tadi. Reka berpikir untuk menemuinya nanti.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06:55 pagi. Reka menuju ruang Kepala Sekolah untuk menemui wali kelasnya. Sesampainya disana, dia langsung diserahkan kepada Wali Kelasnya, dan kemudian di ajak ke suatu kelas yang sedari jarak 50 meter sudah terdengan keributannya.
Ibu Wiwik wali kelasnya, masuk ke kelas itu diikuti oleh Reka yang berjalan agak malu-malu. Serentak kelas menjadi tenang dan semua wajah melihat kearah Reka. Reka hanya bisa senyum meringis sambil menatap semua mata yang sedari tadi melihatnya dengan seksama. Terlihat pula cowok imut yang tadi memanggil namanya. Reka mulai bersemangat lagi.
Dengan ramah dan berwibawa, Ibu Wiwik membuka suasana di kelas itu dan mempersilahkan Reka untuk memperkenalkan dirinya sendiri. Bisik-bisik ramai mulai terdengar lagi. Tapi Reka langsung menyelanya dengan berdehem, “Eh hem, maaf sebelumnya, perkenalkan nama saya Tereka Tista Rosa, tapi panggil saja Reka. Saya dar..” Kata-kata Reka langsung dipotong oleh seorang siswa yang langsung berkata, “Woii, Reka dua tuh,, hahahaha”, disambut tawa oleh yang lainnya, “Iya, Rek, kembaranmu tuh,,,” Dan disambut gelak tawa oleh seisi ruang kelas XA tersebut.
“He? Apa maksudnya tadi? Reka? Ada Reka yang lain?”, pikir Reka dalam hatinya. Kelas yang mulai riuh tersebut terpaksa dihentikan oleh Ibu Wiwik, “Diam anak-anak. Maaf Reka kamu pasti bingung ya?” Reka sedikit mengangguk menatap kearah Ibu Wiwik. “Jadi gini, di kelas ini juga ada yang bernama Reka. Nah, itu anaknya di pojok kiri belakang yang dari tadi tidur kayak kebo ga bangun-bangun, padahal kelas sudah seperti pasar.”, canda Bu Wiwik mencairkan lagi suasana dan disambut oleh gelak tawa seisi ruang kelas lagi.
Reka hanya bisa terpaku, mulai mengamati sosok Reka yang lain lalu melihat ke arah cowok imut yang duduk di samping Reka. “Tolong Reka dibangunkan Rex”, pinta Bu Wiwik kepada salah satu siswa yang duduk di samping Reka. Seketika itu juga Reka lupa akan masalah Reka dan hanya memikirkan Rex, cowok imut yang memanggilnya tadi pagi. Agaknya Reka masih penasaran dengan cowok itu.
Akhirnya Reka cowok terbangun dan saat menengadahkan wajahnya, mendadak Reka cewek kaget dan keceplosan, “cowok Tengil!”, sambil menunjuk ke arah Reka yang masih terkantuk-kantuk, mendadak seisi kelas heboh penuh gelak tawa. Reka reflex langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba Angga, seorang siswa dari arah kanan kelas mencoba menenangkan kelas. Reka agaknya bersyukur dengan tindakannya. Tapi tidak disangka, Angga mulai berkata, “Rek, ini cewekmu? Manis juga. Kenal dimana? Boleh dong digangguin. He he he”, katanya sambil tertawa ke arah Reka. Reka yang sudah sadar langsung terlihat marah. Tapi anehnya, dia melihat ke arah Reka dan berkata dengan nada tinggi, “ Siapa loe bikin keributan aja. Ganti nama sana!”. “Apa loe bilang?! Loe aja yang ganti nama!”, timpal Reka cowok tidak mau kalah.
“Kalian jodoh kali, biasanya sih wajah yang mirip, tapi nama juga ga apa-apa.”, kata salah seorang siswa yang dilanjutkan oleh tawa sebagian besar siswa. “Oi, minta dibantai loe!”, kata Reka cowok membalas kata-kata cowok itu.
“Tenang-tenang, “kata Bu Wiwik menyudahi pertengkaran di dalam kelas XA itu. “Kalian ini, Reka siapa suruh pakai kata-kata sekasar itu di dalam kelas! Kesini kamu, ikut saya ke ruang guru.”, tegas bu Wiwik sambil mempersilahkan Reka cewek untuk duduk di bangku kosong di belakang Rex dan segera pergi bersama Reka cowok menuju ruang guru.
Reka cewek memang sudah tidak memperdulikan Reka cowok, dia hanya sedih, ternyata yang tadi pagi, hanya suatu kesalahpahaman dengan si cowok imut Rex. Tapi Reka bersyukur, karena dia belum sempat bertanya kepada Rex. Reka melewati Rex sambil tersenyum, Rex pun membalasnya dengan ramah dam mulai mengajak reka ngobrol.
Pelajaran mulai berlangsung seperti biasa, Reka dan Rex mulai akrab, tapi saat Reka cowok kembali ke kelas, dengan wajah marahnya menatap ke arah Reka cewek sambil berkata, “ Jangan dekat-dekat!”. Reka cewek menatapnya sejenak tapi langsung tidak memperdulikannya. Ia kembali ke arah Rex dan mulai ngobrol lagi. Rex memang anak yang ramah dibanding dengan Reka cowok.
Merasa tidak dihiraukan, Reka cowok mulai kesal. Tapi sebelum kekesalannya meluap, Rex sudah menghentikannya denagn membisikkan sesuatu seakan Rex tahu apa yang akan dilakukan oleh Reka cowok. Reka mulai bisa menahan emosinya dan kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik bersama Rex. Karena tahu Rex melakukan itu untuk melindungi Reka cewek, Reka hanya bisa diam dan mengikuti pelajaran juga.

Waktupun terus berlalu, tanpa terasa sudah waktunya pulang sekolah. Hari ini Reka tidak bisa mendekati Rex sama sekali. Rex dimonopoli penuh oleh Reka Tengil, begitu Reka menyebutnya. 

Tuesday, February 25, 2014

Ternyata Hanya Mimpi (Cerpen sewaktu SMA)

Links to this post
TERNYATA HANYA MIMPI

            Sore hari yang menyenangkan. Saat itu aku sedang berada di halaman belakang rumahku. Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang manis, tersenyum, menghampiriku, dan berkata, “Mau ga kamu jadi pacarku?”, dengan senyumnya yang terangkat sebelah.
            “Haah!”, teriakku dalam hati yang pastinya ga bisa didengar oleh siapapun juga kecuali aku. Dengan wajah yang kebingungan dan perasaan yang tak menentu, aku hanya bisa bertanya sambil terheran-heran, “Apa alasannya?”.
            Jawab anak yang sedang berada di depanku itu, “Hm, Apa ya? Mungkin karna aku sayang sama kamu”. Anak itu menatap lekat-lekat kepadaku dan berkata lagi, “Mungkin kamu masih bingung ya, buat jawabannya, aku tunggu kamu besok di taman belakang sekolah jam 2 siang setelah pulang sekolah. Oke, aku ga bisa nunggu nih, aku harus pergi sekarang. Sampai ketemu besok ya.”, pergi berlalu sambil melambai dengan girangnya.
….
            Aku yang baru saja terbangun, langsung ke kamar mandi, setelah itu aku bergegas berangkat sekolah karena waktu sudah menunjukkan jam 6:45.
            Setibanya di sekolah, bel tanda dimulainya pelajaranpun berbunyi, akupun memulai pelajaran pertamaku di kelas 10. Saat pelajaran, aku teringat kembali dengan apa yang terjadi sebelumnya. Aku agak bingung, sebenarnya itu mimpi atau kenyataan. Mimpi yang begitu indah atau kenyataan yang tak mungkin terjadi pada siswi biasa seperti Aku.
Oke, untuk membuktikannya, aku akan pergi ke taman belakang sekolah nanti siang. Aku sih berharap itu semua nyata. He3x.. Tapi dia terlalu manis buat aku yang biasa-biasa ini. Aku musti seneng apa sedih sih? Heran.
Seusai sekolah aku langsung pergi ke taman itu. Aku terlalu ingin bertemu dengan dia dan membuktikan apa dia benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka. Aku terus melangkah, namun beberapa detik kemudian aku ragu untuk terus melangkahkan kakiku. Aku heran,  aku kan ga tahu siapa namanya dan bagaimana dia tahu aku? Pertanyaan itu terus ada dibenakku.
Apa dia dulu secret admireku? Terus sekarang berani nembak aku? He3x.. Mimpi kalee ya. Mana pernah ada orang yang jadi pengagum rahasiaku. Kayak di sinetron-sinetron aja. Ah, lebih baik aku kesana sekarang untuk tahu lebih jelasnya.
Akhirnya sampai juga di taman. Mana ya dia? Mm.. Bener ini cuma mimpi. Kecewa berat nih aku. Sambil terus merengut, aku berjalan ke arah ayunan yang sedari tadi berayun memanggil orang untuk berayun. Aku duduk dan terus melihat sekeliling. Banyak orang lalu lalang, tapi tak ku dapati dia berada di taman ini.
Aku menghela nafas panjaaang sekaliii dan tepat pada saat itu, pandanganku tertuju pada sesosok hewan mungil menggemaskan. “Meong”, katanya seperti memanggilku. Aku yang memang suka kucing langsung menghampiri kucing itu dan mengelus bulunya yang lembut.
Sedang asyiknya aku bermain, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangku, “Maaf Kak, itu kucingku, tadi lepas”, sambil terisak anak itu mendekat dan mengelus kucing itu, “Pus-pus jangan pergi lagi ya. Nana sedih, Kak Riyal juga cari-cari”. Sambil berdiri melihat sekeliling, pandangannya tertuju pada seseorang yang aku cari-cari dari tadi, “Kak! Sini deh Pus-pus dah ketemu nih”.
Busyet, itu bukan mimpi ya! Dia ke arahku, aku musti gimana nih. Aku belum siap buat jawabanku. Aku belum mikir. Tuhan tolong kasih aku waktu untuk mikir. Aku terus berpikir tanpa memperdulikan sekitarku.
Dia mendekat dan berkata, “Makanya jangan bawa kucing ke sekolah dong Na”, berbalik ke arahku, “Jadi kamu yang nemuin Pus-pus ya? Makasih ya”, katanya sambil tersenyum seperti waktu ia menembak aku.
“Iya!”, jawabku tiba-tiba. Jadi, aku sudah resmi jadi pacarnya nih? Ya ampun, kok aku langsung jawab sih? Harga dirimu kemana Lea? Aku dan unek-unekku yang terus bermunculan.
“Wah, Kakak semangat banget, makasih ya Kak, Nana seneng deh”, ucap gadis cilik yang sedari tadi mengelus-elus kucing yang dipanggilnya Pus-pus itu.
“Iya nih, Kakak seneng banget”, seneng apa bingung nih, aku stress mendadak nih.  Jadi aku udah pacaran? Jadi, adiknya sudah merestui ya. (maaf pembaca, mungkin Lea emang agak telmi atau sangat ya?)
“O ya, besok kita berangkat sekolah bareng ya?” , kataku untuk membuka percakapan diantara aku dan orang yang saat ini sudah menjadi pacarku.
Agak kaget dia menjawab, “Hah, iya, boleh deh, o ya sapa namamu? Kita kan belum kenal. Aku Riyal”, sambil memberikan tangannya untuk berjabat tangan ke arahku. Ah, dia sok ga kenal, padahal kemaren dia kan nembak aku. Sambil senyum-senyum sendiri akupun menjabat tangannya dan berkata, “Aku Lea, salam kenal, semoga hubungan kita semakin baik saja”. (menjawab tanpa dosa)
(Dipikiran Riyal, “Gila ni cewek terus terang banget?!”.)
“Oke kalau gitu gimana kalau sekarang aku, eh aku sama Nana nganter kamu pulang, biar besok aku bisa jemput kamu. Gimana?”, kata Riyal tepat menuju sasaran.
Jawabku tiba-tiba, “Ide yang bagus tuh, ayo sekarang aja”. Aku menarik tangan Riyal dengan akrabnya.
Aku dan Riyal, eh dan Nana juga sekarang semakin akrab. Ga sungkan pula kami ejek-ejekan nama. Sesampainya aku di rumah, aku masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi tadi. Aku punya pacar? It’s truly impossible for me! But I like it. He3x..
Akhirnya aku dan Riyal, sekarang tanpa Nana menjadi semakin akrab. Ga biasanya aku bisa akrab dengan cowok seperti sekarang ini. Aku ngerasa nyaman deket dengan Riyal. Riyal pacar pertamaku. Aku sayang banget sama Riyal.
Akhir-akhir ini terdengar kabar yang ga mengejutkan buat aku tapi membuat Riyal kebingungan setengah mati. Kabar ini mengenai “The Couples of The Week” di mading. Namaku dan Riyal terpampang diurutan yang pertama.
“Aduh biasa aja dong Yal”, kataku menenangkan.
“Gimana bisa biasa aja, ini kan ga bener!”, agak membentak dan kasar.
“Hah! Ga bener gimana? Emang selama ini ki…”, kata-kataku terpotong oleh jawaban Riyal yang tak terduga sebelumnya.
“Kita pacaran? Ya ga mungkinlah Lea, kapan kita pernah jadian?”, katanya sambil berlalu pergi.
….
            Setibanya di rumah aku mulai kalut. Apa benar waktu dia nembak aku hanya mimpi? Apa aku yang bodoh menganggap mimpi sebagai kenyataan? Gimana aku bisa sebodoh ini? Gimana bisa aku menampakkan wajahku di hadapan Riyal? (kayaknya Lea stress deh, he3x..)
            Keesokkan harinya mataku bengkak. Tapi aku tetap harus masuk sekolah, karena hari ini ada ulangan Matematika kesukaanku. Aku ga mau masalah aku dan Riyal menghambat prestasiku.
            Sesampainya di sekolah aku berusaha untuk menghindari Riyal. Untung saja Riyal kelas 12. Dan aku kelas 11. Jadi kami ga bisa ketemu di kelas. Saat istirahat, aku lebih memilih pergi ke UKS untuk sembunyi dari kejaran Riyal yang dari tadi pagi langsung mengejar ketika melihatku. Aku ga sanggup ngomong apa-apa lagi. Aku terlalu malu.
            Akhirnya jam sekolahpun usai, aku selamat dari kejaran Riyal dan seharusnya begitu. Saat aku hendak keluar gerbang sekolah, ada yang menarik tanganku ke belakang. Saat aku menoleh, aku ga bisa berkata apa-apa lagi. Air mataku bercucuran seketika. Riyal yang menarik tanganku pun bingung harus berbuat apa.
            “Kamu kenapa Lea, kok nangis? Aku salah apa? Dari tadi kamu menghindar terus?’, katanya cemas.
            Aku hanya bisa diam, tapi air mataku terus mengalir tidak bisa dikendalikan.  Aku ga tahu harus bagaimana. Yang pasti pada saat itu Riyal terus memegang kedua tanganku sambil menunggu jawaban dari mulutku. Aku semakin tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
            Akhirnya Riyal mulai berbicara lagi,”Lea, kamu jangan kayak gini terus, aku bingung. Aku mulai sadar ga ada kamu ada sesuatu yang hilang. Aku ga tahu itu apa. Tapi sangat mengena di hati. Mungkin aku sudah jatuh hati sama kamu. Aku hanya takut untuk tahu perasaanmu yang sebenarnya.”
            Air mata Lea akhirnya berhenti  mengalir, “Apa? Kamu bilang apa?”, aku ingin lebih yakin lagi.
            “Maaf soal yang kemaren, aku terlalu kasar. Aku ga tahu harus berbuat apa. Aku takut kamu malah akan menjauh karena berita di sekolah.”, katanya langsung dan langsung kupotong.
            “Bodoh! Tahu gini kan aku ga perlu nangis semalaman.”, sambil mengusap air mata di mataku.
            “Maaf Lea, ga lagi-lagi deh.”, katanya sambil tersenyum manis kepadaku.
            Aku memulai, “Jadi kapan kamu nembak aku?”, pipiku memerah. Aku ga mau seperti dulu, aku ingin kepastian, dan saat inilah saat yang tepat menurutku. Aku ga akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
            Wajah Riyal agak memerah, ia tersipu malu dan berkata, “Sekarang aja gimana?”.

TAMAT


Created by: Ly_Le2

Recent Comments

Anime Ost

Drama Asia Ost